Dari legenda itu pula, sebagian masyarakat Tionghoa yang ada di Banjarmasin atau Kalimantan selatan membangun tempat persembahan di Pulau Kembang tersebut, guna mengenang dan mendo`akan nenek moyang mereka.
Pulau ini ditumbuhi tumbuh-tumbuhan khas Kalimantan, Satwa di Pulau Kembang dihuni ratusan, bahkan mungkin ribuan monyet atau kera ekor panjang didominasi kera abu-abu (macaca fascicularis) yang cukup jinak, sejumlah lutung (presbytis cristata), dan sedikit bekantan (nasalis larvatus). Dan di tengah-tengah pulau katanya juga ada rajanya dengan tubuh yang lebih besar. Di pulau yang daerah administrasinya termasuk ke Kabupaten Barito Kuala, Kalsel ini terdapat tempat untuk pemujaan bagi etnis Tionghoa, dimana ada berupa tempat pemujaan disertai replika monyet putih/ Hanoman.Floranya didominasi jenis jingah (bluta renghas) dan pohon pidada (sonneratia caseolaris).
Kawasan ini berjarak ± 2 km dari Kota Banjarmasin, dan dapat dicapai dengan menggunakan kelotok dari Pelabuhan Kuin dengan waktu tempuh berkisar antara 10 - 15 menit. Untuk mencapai pulau ini tidak begitu susah apalagi sebelumnya telah mengunjungi Pasar Terapung, pulau ini sebenarnya sudah kelihatan ketika kita akan menuju Pasar tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar